Catatan Sang Guru

From : Yendra

TABIAT-TABIAT PIMPINAN SEKOLAH


Pemimpin merupakan sosok yang harus sempurna di mata orang-orang yang dipimpinnya secara intelektual atau pun psikis. Manakala pemimpin dinilai memiliki kekurangan secara intelektual atau pun psikis maka standar kepemimpinannya akan dipertanyakan. Tetapi kalau pemimpin secara kapasitas dan kapabilitas mumpuni maka tak ada keraguan pada dirinya. Sehingga tidak mengherankan apabila untuk memilih pemimpin sebuah lembaga pemerintah diharuskan untuk menempuh fit and proper test. Bahkan untuk menduduki jabatan tertentu di sebuah perusahaan swasta pun diberlakukan hal yang sama. Akibatnya, ketika seorang pemimpin dipilih oleh pejabat yang berwenang (di lingkungan pemerintah) secara acak tanpa mengedepankan kompetensi dan moralitas, dapat dipastikan lahir pemimpin-pemimpin yang berkarakter liar dan tidak dapat dipertanggungjawabkan kinerjanya.

Di dunia pendidikan khususnya sekolah, hal serupa bukan lagi sebuah rahasia. Kebanyakan pimpinan sekolah adalah orang-orang terpilih karena faktor kemujuran semata. Kemujuran dapat diinterpretasikan kedekatan, suap atau menjilat dengan bertopengkan loyalitas. Bukan berarti tidak ada pimpinan sekolah yang terpilih karena faktor kompetensi dan moralitas. Ada ! Itu pun bisa dihitung dengan jari. Sangatlah beralasan kalau kemudian muncul ketidakpuasan dari pihak penerima layanan sekolah yang dalam hal ini orang tua/wali bahkan anak didik itu sendiri. Menggugat kepemimpinan seorang pimpinan sekolah adalah hal lumrah dan bagian dari pemandangan yang tidak lagi mengejutkan dalam beberapa tahun terakhir.

Ada pimpinan sekolah yang low profile tapi kemaruk ! Dalam menjalankan tugasnya selalu menonjolkan kesan tenang dan sabar menghadapi kritikan dari pihak manapun. Sikap emosional pantang untuk dipertunjukan di hadapan penentangnya. Pemimpin semacam ini sangat menomorsatukan prinsip 'mengalah untuk menang'. Ketika penentangnya tak lagi peduli dengan kebijakannya, momen itulah yang digunakan untuk meraup anggaran sekolah sebanyak mungkin. Kerakusan pemimpin semacam ini mempunyai kemampuan men-download anggaran sekolah dengan kecepatan 1000 kbps bila dianalogkan dengan internet. Menjadi target pihak berwajib (baca;Inspektorat, polisi, kejaksaan) bukanlah hal yang luar biasa tapi justeru merupakan hal yang biasa-biasa saja karena banyak strategi yang dapat dilaksanakan untuk melumpuhkan keangkeran pihak berwajib.

Berikutnya, pimpinan sekolah yang arogan tapi otak udang ! Dalam kesehariannya bak raja yang memiliki kekuasaan absolut. Setiap kata-katanya adalah hukum mutlak yang harus dilaksanakan oleh seluruh komunitas sekolah sekalipun kebijakan tersebut terkesan dipaksakan dan konyol. Untuk urusan beli air mineral, beli paku, beli kapur sekalipun, adalah hal haram jika harus dilakukan oleh orang lain.Jangan dikata soal RAPBS, pimpinan sekelas ini menderita pobia bila mesti mengajak guru untuk membahasnya. Pada akhirnya kebijakan pimpinan sekolah seperti ini tidak mendatangkan manfaat apapun bagi sekolah karena mitra kerjanya (guru) tidak dapat mengoptimalkan kinerjanya. Suasana kerja yang kontra produktif di sekolah hanya akan menggiring sekolah tersebut menjauh dari prestasi.

Yang ketiga, pimpinan sekolah yang berstandar ganda (Yahudi) ! Di otak pimpinan yang bersifat standar ganda, setiap keputusannya harus selalu menguntungkannya. Untuk hal yang berhubungan dengan finansial, standarnya adalah sekolah-sekolah yang telah mapan anggarannya. Contoh sederhana, honor kepala sekolah harus rujukannya sekolah mapan. Tapi honor guru standarnya adalah sekolah yang minim anggaranya. Baginya, sekolah merupakan lahan garapannya. Kalau sekolah yang dikelola anggarannya kecil maka sekolah tersebut tak ubahnya mengurus kebun yang tidak ada isinya.

Pimpinan sekolah yang keempat adalah pimpinan yang bermulut besar. Banyak bicara hingga mulutnya berbusa merupakan ritual yang harus dijalankan setiap hari. Kemampuan menejer sesungguhnya ada di tangan orang-orang kepercayaannya sehingga sekolah hanya panggung untuk berorasi sedang pada tataran pelaksanaannya blank. Bagi pimpinan sekelas ini, kejelasan arah dan tujuan sekolah ditentukan oleh rakyat sekolah sepenuhnya. Terlalu demokratis dan reformis ! Sekolah adalah bom waktu yang setiap saat dapat meledak berantakan dan roboh bila kebijakannya diputarbalikan oleh orang-orang kepercayaannya.

Tabiat pemimpin sekolah yang pamungkas ini merupakan tabiat perfect yang mengharamkan ke empat tabiat di atas. Di sekolah, kedatangannya dinanti; kehdirannya menyejukan orang-orang disekelilingnya; ketidakhadirannya tidak diharapkan; kepergiannya ditangisi. Orang sekitarnya selalu mendoakan untuk kebaikannya. Sekolah tak pernah menjerit karena perahannya, guru tak pernah kebakaran jenggot karena kebijakannya, murid tak pernah membanggakan kekurangajarannya karena sentuhan hatinya, bahkan rumput, bangku kelas, papan tulis, pohon mahoni dan bendera merah putih di halaman tak pernah tersakiti karena lembut sanubarinya. 1000 % halal buat pemimpin seperti ini !

Neraka peraduanmu bila tabiatmu sama dengan pemimpin yang pertama hingga ke empat.
Surga pesanggrahanmu bila tabiatmu sama dengan pemimpin yang terakhir.



0 Response to "Catatan Sang Guru"

Post a Comment

Terima kasih telah berkunjung !
Silahkan berkomentar dengan menyertakan nama atau URL anda :